BerandaLifestyleIwan Abdulrachman dan Cerita di Balik Musik Api Unggun

Iwan Abdulrachman dan Cerita di Balik Musik Api Unggun

Top Informasi | Iwan Abdulrachman menghadirkan “Musik Api Unggun” melalui pertunjukan “Perjumpaan bersama Iwan Abdulrachman” di DSS Studio, Selasa, 6 Oktober 2026.

Pertunjukan tersebut memperlihatkan cara Abah Iwan Abdulrachman mempertemukan musik dengan cerita.

Ia tidak menyajikan lagu secara utuh tanpa jeda. Di antara lagu, Abah Iwan berhenti. Ia berbicara dengan penonton. Ia membagikan cerita. Setelah itu, lagu kembali dimainkan.

Format tersebut menjadi ciri “Musik Api Unggun”, konsep yang berkembang dari pengalaman Abah Iwan bernyanyi dan bercerita saat melakukan perjalanan di alam.

Ir. Ridwan Armansyah atau Iwan Abdulrachman dikenal sebagai musisi, komposer, penyanyi, pesilat, pelatih tentara, dan pendiri Wanadri.

Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, didirikan di Bandung pada 16 Mei 1964.

Abah Iwan lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 3 September 1947.

Dari Gunung ke Ruang Pertunjukan

Pengalaman alam menjadi bagian dari perjalanan Abah Iwan Abdulrachman.

Ia telah mendaki sejumlah gunung, termasuk Rinjani dan Kilimanjaro. Dari perjalanan tersebut, musik dan cerita berjalan beriringan.

Api unggun menjadi ruang pertemuan.

Di sana, orang dapat bernyanyi, berbagi pengalaman, lalu kembali menyanyikan lagu. Pola tersebut kemudian dibawa ke dalam konsep pertunjukan.

Namun, apakah suasana seperti itu bisa hadir di sebuah studio?

“Musik Api Unggun” mencoba menjawabnya.

Dukungan tata suara dan akustik dari Donny Hardono melalui DSS Sound membuat konsep tersebut hadir di DSS Studio tanpa menghilangkan karakter dasarnya.

Lagu yang Dinyanyikan Abah Iwan

Dalam pertunjukan tersebut, Abah Iwan membawakan sejumlah lagu.

Beberapa di antaranya adalah “Sejuta Kabut”, “Tajam Tak Bertepi”, “Bulan Merah”, “Melati dari Jayagiri”, “Flamboyant”, “Burung Camar”, “Bunga Putih Bunga Ungu”, “Detik Hidup”, “Mentari”, dan “Bagimu Indonesiaku”.

Lagu-lagu tersebut hanya sebagian dari ratusan karya Abah Iwan.

Sejumlah karyanya juga dikenal melalui Bimbo dan Vina Panduwinata.

Perjalanan Panjang di Dunia Musik

Abah Iwan telah menjalani perjalanan musik sejak muda.

Ia pernah bergabung dengan Nada Melody pada 1958-1961, Aneka Nada pada 1961-1963, dan Aneka Nada Junior pada 1964.

Pada 1970, ia mendirikan Grup Pencinta Lagu atau GPL.

Ia juga menciptakan sejumlah lagu untuk himne universitas dan organisasi. Beberapa di antaranya adalah Hymne Universitas IBA Palembang, Hymne Universitas Padjadjaran, Hymne Universitas Mulawarman, Hymne Wanadri, Mars Wanadri, dan Hymne Siliwangi.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana musik menjadi bagian panjang dari kehidupan Abah Iwan.

Sebuah Perjumpaan yang Berawal dari Pertemanan

Ketua Panitia “Musik Api Unggun”, Berlin TR Hasan, menjelaskan bahwa acara tersebut berawal dari pertemuan sejumlah orang.

Abah Iwan dan Dimas Wahab termasuk di dalamnya. Keduanya telah lama berkawan dan pernah bermain musik bersama di Bandung.

Dari pertemuan itu muncul gagasan untuk menghadirkan kembali karya-karya Abah Iwan dalam format yang lebih intim.

“Selama ini, musik Abah Iwan memang lekat dengan suasana alam. Lagu-lagunya kerap dinyanyikan di gunung, di sekitar api unggun, dengan format yang sederhana: bernyanyi, bercerita, kemudian kembali bernyanyi. Bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi ada cerita mengenai pengalaman hidup dan proses lahirnya sebuah lagu, Karakter tersebut kemudian coba dibawa ke Jakarta dalam format pertunjukan dengan tata suara dan akustik yang lebih terkontrol lewat dukungan dari Donny Hardono dan DSS Sound nya. Namun, menurut kang Berlin, membawa musik Abah Iwan ke studio atau panggung bukan berarti mengubah karakter aslinya”, jelas kang Berlin.

Gagasan tersebut membuat konsep “Perjumpaan” tidak sekadar menjadi konser.

Penonton mendapat kesempatan untuk mendengar lagu sekaligus cerita di baliknya.

Mengapa Abah Iwan Menyebutnya Gubahan?

Sutradara “Musik Api Unggun”, Aat Soeratin, menjelaskan bahwa proses lahirnya karya Abah Iwan Abdulrachman memiliki cerita tersendiri.

“Ada melodi yang bahkan telah tersimpan selama puluhan tahun sebelum akhirnya menemukan syair dan menjadi sebuah lagu. Abah Iwan pun tidak menyebut karya-karyanya sebagai “ciptaan”, melainkan “gubahan”. Bagi Bang Iwan, lirik dan nada sudah ada di mana-mana. Ia hanya menggubah dan menyusunnya melalui proses internalisasi pengalaman hidup. Karena itulah, setiap lagu memiliki cerita yang dapat dibagikan kepada penonton. Format tersebut mengingatkan Bang Berlin pada tradisi seni tutur, seperti pantun dalam budaya Sunda, ketika seseorang bernyanyi, berhenti untuk bercerita, lalu kembali bernyanyi.”

Pandangan tersebut membuat cerita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan.

Sebuah melodi bisa menunggu bertahun-tahun sebelum menemukan kata-kata yang tepat.

Ketika akhirnya menjadi lagu, pengalaman hidup menjadi bagian dari karya tersebut.

Musik sebagai Pengingat untuk Menjaga Alam

Harry Koko Santoso dari Deteksi Production memberikan dukungan terhadap acara tersebut.

Ia menilai karya Abah Iwan Abdulrachman memiliki posisi dalam perjalanan musik Indonesia.

“Abah Iwan Abdulrachman lagu-lagunya itu bukan hanya mendominasi secara nasional, bahkan dinyanyikan oleh grup sebesar Bimbo. Itu kan luar biasa. Dan Bimbo itu berkali-kali juara tuh di Budokan di Jepang. Jadi menurut saya sejarah panjang musik Indonesia itu bukan hanya sekedar hiburan. Karena musik itu juga menginspirasi generasi ke generasi.”

Harry juga melihat adanya pesan tentang Indonesia dan alam dalam karya Abah Iwan.

“Ada lagu abah Iwan yang bercerita tentang tentang alam. Kenapa alam dan Indonesia itu harus kita perhatikan? Karena sekarang saat ini, kita lihat aja, hutan kita habis, tambang kita menyusut. Seorang abah Iwan itu sangat menjaga hal-hal seperti ini dan itu dituangkan dalam lagunya, Melati dari Jayagiri atau Flamboyan contohnya.”

Bagi Harry, pesan dalam lagu dapat melampaui fungsi hiburan.

Musik dapat menjadi pengingat. Musik juga dapat membawa gagasan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Harry Koko Santoso dari Deteksi Production

Ais Suhana: Abah Iwan Sosok yang Konsisten

Promotor konser musik senior Ais Suhana turut memberikan apresiasi.

“Saya salut sama Abah Iwan dari saya kuliah. Dia juga udah senior di Bandung ya, ngurusin apa, hutan apa segala ya? Jadi, sampai saat ini saya menganggap Abah Iwan ini orang yang konsisten melestarikan hutan maupun berdendang dengan lagu-lagu karya kelompok yang Nusantara. Abah Iwan itu sosok yang konsisten, makanya saya hormat sekali sama beliau.”

Konsistensi tersebut terlihat dari perjalanan Abah Iwan Abdulrachman yang mempertemukan aktivitas musik dengan alam.

Dua dunia itu kemudian bertemu kembali dalam “Musik Api Unggun”.

Harapan untuk Pertunjukan Berikutnya

“Musik Api Unggun” menjadi ruang bagi Abah Iwan untuk kembali berbagi lagu dan cerita.

Format tersebut juga membuka kesempatan bagi penonton untuk mendengarkan karya dengan cara yang berbeda.

Berlin TR Hasan berharap “Perjumpaan” bersama Abah Iwan Abdulrachman dapat menciptakan rasa sejuk bagi masyarakat.

Ia juga berharap konser musik intim tersebut dapat digelar lebih sering.

Jika musik adalah perjalanan, maka “Musik Api Unggun” seperti berhenti sejenak di tengah perjalanan. Orang duduk bersama, mendengar lagu, berbagi cerita, lalu melanjutkan perjalanan dengan pengalaman yang berbeda.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments