BerandaLingkunganAkademisi USU Dorong Aksara Batak Masuk Sistem Domain Internet Dunia

Akademisi USU Dorong Aksara Batak Masuk Sistem Domain Internet Dunia

BALI, – Dua akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) mendorong pengembangan Aksara Batak agar dapat digunakan dalam sistem nama domain internet global. Upaya tersebut dibahas dalam forum internasional Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN87) yang berlangsung pada 17–22 Oktober 2026 di Nusa Dua, Bali.

Kedua akademisi tersebut adalah Dr. Pauzi Ibrahim Nainggolan, S.Komp., M.Sc., dosen Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (Fasilkom-TI) USU, serta Dr. Immanuel Silaban, S.S., M.Si., dosen Program Studi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari kolaborasi dengan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dalam pengembangan Internationalized Domain Name (IDN) untuk aksara Nusantara, termasuk penyusunan Label Generation Rules (LGR) Aksara Batak.

Pauzi menjelaskan, pengembangan LGR Aksara Batak merupakan inisiatif PANDI yang melibatkan tim akademisi USU dari berbagai disiplin ilmu. Tim tersebut diketuai Wakil Rektor IV USU, Dr. Muhammad Anggia Muchtar, S.T., M.M.IT.

Anggota tim lainnya adalah Pauzi Ibrahim Nainggolan, Umaya Ramadhani Putri Nasution, S.TI., M.Kom., Immanuel Silaban, serta Suendri, M.Kom.

“Penyusunan LGR Aksara Batak menjadi langkah penting untuk memungkinkan penggunaan karakter Aksara Batak dalam sistem penamaan domain internet sesuai standar teknis internasional,” kata Pauzi dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2026).

Menurut dia, LGR merupakan seperangkat aturan yang mengatur karakter, kombinasi karakter, serta ketentuan teknis dalam pembentukan label nama domain menggunakan aksara tertentu.

Dalam pengembangannya, aturan tersebut harus memperhatikan kesesuaian karakter Unicode, struktur penulisan, dan karakteristik sistem aksara tradisional Batak.

Dengan standardisasi tersebut, Aksara Batak diharapkan tidak hanya digunakan untuk dokumentasi naskah kuno, pendidikan, dan penelitian kebahasaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam teknologi internet modern.

Dalam rangkaian ICANN87, PANDI bersama para ahli aksara Nusantara mengikuti sejumlah agenda strategis. Kegiatan tersebut meliputi pertemuan teknis dengan ICANN pada 17–18 Oktober, pembahasan Universal Acceptance pada 19 Oktober, serta sesi Internationalized Domain Name pada 20 Oktober 2026.

Pertemuan itu membahas pengembangan Second-Level Domain (SLD) untuk Aksara Sunda, Batak, dan Bugis, sekaligus perkembangan implementasi aksara lokal dalam sistem internet global.

Rangkaian kegiatan ICANN87 juga mengagendakan peluncuran SLD Aksara Bali, Jawa, dan Pegon serta penyampaian perkembangan pengembangan domain untuk aksara Nusantara lainnya, termasuk Aksara Batak.

Pauzi menilai, pengembangan domain berbasis aksara tradisional membutuhkan kolaborasi antara bidang teknologi informasi dan kajian linguistik.

Dari sisi teknologi, keterlibatan Fasilkom-TI USU berkaitan dengan pengodean karakter, keamanan, dan kompatibilitas nama domain. Sementara dari sisi kebahasaan, diperlukan kajian mengenai struktur, kaidah penulisan, serta variasi karakter Aksara Batak.

Keterlibatan Program Studi Sastra Batak FIB USU juga menunjukkan bahwa pelestarian bahasa dan aksara daerah dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi digital, selain melalui penelitian dan dokumentasi budaya.

“Melalui kolaborasi ini, Aksara Batak memiliki peluang untuk memperoleh ruang penggunaan yang lebih luas dalam ekosistem internet internasional, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Batak di tengah perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Partisipasi USU dalam ICANN87 juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi Indonesia dalam mendukung upaya PANDI memperkenalkan aksara Nusantara kepada komunitas pengelola internet global.

Pauzi berharap, pengembangan LGR Aksara Batak dapat menjadi langkah strategis untuk menjadikan aksara tradisional sebagai bagian dari identitas digital Indonesia.

Dengan demikian, warisan budaya Batak tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga berpeluang berkembang dan digunakan dalam infrastruktur komunikasi digital dunia.

“Harapannya, Aksara Batak dapat terus dilestarikan sekaligus memperoleh ruang dalam perkembangan teknologi digital global,” pungkasnya.

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments