Lingkungan, Sosial & OrganisasiNasional

Reforma Agraria Desa Soso, Perkuat Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

11
×

Reforma Agraria Desa Soso, Perkuat Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

Sebarkan artikel ini

Reforma Agraria Desa Soso, Perkuat Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

BLITAR ,TOPINFORMASI.COM – Program Reforma Agraria yang dijalankan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) membawa perubahan nyata bagi kehidupan petani perempuan di Desa Soso, Kabupaten Blitar. Kepastian hukum atas kepemilikan tanah kini menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Bagi warga Desa Soso, memiliki tanah bukan hanya soal legalitas, tetapi juga harapan akan kehidupan yang lebih layak. Dengan sertipikat di tangan, para petani perempuan kini mampu mengelola lahan secara optimal, meningkatkan hasil pertanian, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Patma (55), salah satu petani perempuan di desa tersebut, mengisahkan perjuangan panjang yang harus dilalui. Sejak 2012, Desa Soso dilanda konflik agraria berkepanjangan antara masyarakat dan perusahaan yang beroperasi di wilayah itu. Bahkan, Patma pernah mengalami penghadangan saat berusaha menggarap lahannya.

“Dulu kalau mau nanam itu takut. Tapi kalau tidak nanam, gimana kita butuh makan,” ujarnya.

Perubahan mulai dirasakan pada 2022, ketika program Reforma Agraria hadir dan memberikan kepastian hukum atas tanah yang selama ini disengketakan. Melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar, pemerintah menerbitkan sertipikat hasil redistribusi tanah seluas 83,85 hektare kepada 527 keluarga penerima, termasuk Patma.

“Sekarang, setelah Reforma Agraria, tanah sudah diredistribusi, jadi lebih aman dan tenang,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Indra (32), petani perempuan lainnya. Ia mengaku lebih percaya diri dalam mengelola lahan karena sertipikat sudah atas nama sendiri.

Kepastian ini juga memberi keleluasaan dalam menentukan jenis tanaman dan merencanakan masa depan keluarga.
“Apalagi sertipikat sudah atas nama sendiri. Jadi kita merasa bangga dan lebih percaya diri,” katanya.

Dampak ekonomi dari program ini pun signifikan. Para petani kini dapat memaksimalkan lahan dengan menanam komoditas unggulan seperti jagung. Melalui kerja sama dengan PT Syngenta Indonesia, petani memperoleh bantuan bibit, pendampingan, hingga akses pasar dengan harga jual yang lebih kompetitif, yakni berkisar Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram.

Dari lahan sekitar 1.500 meter persegi, petani mampu menghasilkan hingga 1 ton jagung dengan nilai mencapai sekitar Rp9 juta. Angka ini meningkat tajam dibandingkan sebelumnya yang hanya berkisar Rp4 hingga Rp5 juta.

“Kalau hasilnya meningkat, sudah pasti bahagia dan senang,” ungkap Indra.
Meski demikian, peran perempuan tidak hanya terbatas di sektor pertanian. Mereka juga tetap menjalankan tanggung jawab domestik, mulai dari mengurus rumah tangga hingga merawat anak. Namun, semangat gotong royong antaranggota keluarga dan kelompok tani menjadi kekuatan dalam menjalani peran ganda tersebut.

Melalui Reforma Agraria, perempuan Desa Soso kini tidak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Program ini tidak sekadar memberikan akses atas tanah, melainkan juga membuka ruang bagi perempuan untuk lebih berdaya dan menatap masa depan dengan optimisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *