MEDAN, TOPINFORMASI.com — Sejumlah orangtua taruna SMA Pulau Berayan Darat (PBD) Medan mengeluhkan keamanan barang siswa selama berada di asrama.
Keluhan tersebut muncul melalui kolom komentar media sosial resmi SMAS Taruna PBD Medan setelah sejumlah orangtua menyebut adanya barang milik taruna yang hilang.
Para orangtua berharap pihak sekolah dan yayasan meningkatkan pengawasan serta melakukan evaluasi agar kejadian kehilangan barang tidak kembali terjadi.
Salah satu keluhan disampaikan akun @rara can’t talk rn melalui kolom komentar unggahan TikTok SMAS Taruna PBD Medan.
“Kayaknya keamanan barang siswa perlu lebih diperhatikan deh 😭 soalnya kalau terlalu sering ada barang yang hilang, lama-lama siswa jadi bingung harus merasa aman di mana. Semoga ke depannya ada tindakan yang lebih serius, bukan cuma sekadar ‘hati-hati sama barang masing-masing’,” tulis akun tersebut.
Akun itu juga meminta pihak sekolah memberikan pembinaan apabila pihak yang mengambil barang berhasil ditemukan.
Sekolah sebut fasilitas keamanan telah disediakan
Menanggapi keluhan tersebut, akun resmi SMAS Taruna PBD Medan menyatakan pihak sekolah telah menyediakan fasilitas keamanan di lingkungan asrama.
Pihak sekolah menyebut CCTV yang sebelumnya dipasang mengalami kerusakan.
“Kita menyediakan asrama sudah maksimal yah bapak/ibu. CCTV sudah diletak di atas plafon dipatahin, jadi mau gimana kita buat lagi. Kita sudah bina anak didik semaksimal mungkin di sekolah,” tulis pihak sekolah.
Sekolah juga mengingatkan orangtua agar tidak membekali taruna dengan barang mewah atau uang dalam jumlah besar selama berada di asrama.
Jika membawa uang dalam jumlah banyak, pihak sekolah menyarankan agar uang tersebut dititipkan kepada petugas asrama.
Orangtua sebut kehilangan bukan kali pertama
Keluhan lain disampaikan akun @Ida yang mengaku sebagai orangtua taruna PBD Medan.
Ia meminta pihak sekolah mencari solusi agar kasus kehilangan barang tidak berulang.
“Kejadian seperti ini cukup meresahkan krn bakal ada korban selanjutnya. Mohon pihak sekolah bisa lebih memperhatikan keamanan barang siswa dan mencari solusi agar kejadian kehilangan tidak berulang,” tulisnya.
Pihak sekolah kemudian menyatakan telah berkoordinasi dengan yayasan terkait persoalan tersebut.
Menurut pihak sekolah, yayasan telah memberikan pertanggungjawaban dan mengganti sebagian kerugian.
“Sudah saya konfirmasi ke yayasan yah ibu, ternyata sudah ada pertanggungjawaban dari yayasan dan menggantinya, walau tidak 100 persen,” tulis pihak sekolah.
Namun, sejumlah orangtua tetap meminta adanya evaluasi terhadap sistem keamanan asrama.
Akun @Aswindy Fachrizal, yang mengaku sebagai orangtua taruna, mengatakan persoalan kehilangan barang sebelumnya juga pernah disampaikan kepada pihak sekolah.
Menurut dia, orangtua memilih PBD Medan karena mempertimbangkan reputasi sekolah dan berharap anak-anak mereka mendapatkan lingkungan pendidikan yang aman.
“Sekolah ini reputasi sangat bagus. Makanya saya dan semua orangtua taruna menitipkan anak-anaknya. Kami sebagai orangtua punya harapan yang besar untuk masa depan yang terbaik untuk anak-anak kami,” tulisnya.
Ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pihak sekolah dan yayasan.
Keluhan serupa disampaikan akun @herlinaginting369. Ia meminta yayasan memperhatikan aspek keamanan sekaligus pembentukan karakter taruna.
Yayasan keluarkan delapan poin
Menindaklanjuti keluhan orangtua, Yayasan Pendidikan Airindo Kacaribu SMA Pulau Berayan Darat (PBD) Medan menerbitkan surat pemberitahuan.
Dalam surat tersebut, pihak sekolah dan asrama menyampaikan permohonan maaf kepada orangtua dan menjelaskan sejumlah langkah yang akan dilakukan.
Ada delapan poin yang disampaikan.
Pertama, sekolah dan asrama meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami taruna.
Kedua, orangtua diminta menyampaikan keluhan secara langsung kepada pihak sekolah melalui nomor WhatsApp yang tercantum dalam surat.
Ketiga, orangtua diminta tidak menyampaikan keluhan melalui media sosial dan bersama-sama menjaga nama baik sekolah.
Keempat, taruna diingatkan agar tidak menyimpan barang berharga, makanan maupun uang dalam jumlah banyak di kamar. Barang atau uang dalam jumlah besar diminta dititipkan kepada petugas asrama.
Kelima, pihak asrama menyatakan rutin melakukan apel malam yang diisi dengan nasihat, bimbingan, pembentukan karakter dan kedisiplinan. Sanksi akan diberikan kepada taruna yang terbukti melanggar aturan.
Keenam, yayasan menyatakan akan memperbaiki dan menambah CCTV. Perbaikan tersebut ditargetkan dilakukan dalam waktu satu minggu.
Posisi lemari taruna juga akan diatur agar dapat terlihat kamera CCTV.
Ketujuh, kerusakan pintu kamar mandi akan diperbaiki pada minggu yang sama.
Kedelapan, pihak sekolah dan asrama menyatakan akan membantu mencari barang yang hilang, melakukan pemeriksaan terhadap pihak terkait, mengecek rekaman CCTV, serta memberikan sanksi apabila pelaku terbukti.
Dalam surat itu disebutkan, taruna yang terbukti mengambil barang milik siswa lain dapat dikeluarkan dari asrama.
Orangtua pertanyakan tindak lanjut
Meski yayasan telah mengeluarkan surat pemberitahuan, sejumlah orangtua masih mempertanyakan tindak lanjut penanganan laporan kehilangan.
Mereka ingin mengetahui apakah pihak yang diduga mengambil barang telah ditemukan, diperiksa, dan dikenai sanksi.
Orangtua juga mempertanyakan apakah pihak sekolah telah melakukan pertemuan dengan keluarga taruna yang menjadi korban.
Kepala SMA Taruna PBD Medan, Jasa Karokaro, mengatakan pihaknya akan melakukan klarifikasi dan perbaikan.
“Coba kami klarifikasi dulu untuk perbaikan dan bisa menjadi lebih baik lagi. Mudah-mudahan tidak terulang kembali,” tulis Jasa saat dikonfirmasi.
Namun, ketika ditanya mengenai langkah konkret, termasuk kemungkinan pertemuan dengan wali taruna, Jasa belum memberikan penjelasan lebih lanjut.
Salah seorang orangtua taruna, Linda, mempertanyakan tindak lanjut poin kedelapan dalam surat yayasan.
“Sudahkah ketemu pelakunya? Sudahkah diberi sanksi? Sanksi apa yang telah diberi sekolah, kenapa kejadian masih berulang?” kata Linda.
Linda mengatakan orangtua tidak mempersoalkan penggantian kerugian secara finansial. Menurutnya, hal utama yang diharapkan adalah jaminan keamanan bagi taruna selama berada di asrama.
“Kami selaku orangtua tidak pernah menuntut sekolah untuk mengganti kerugian kami secara finansial. Kami hanya mau anak kami sekolah dengan aman dan nyaman,” ujarnya.













