DELI SERDANG – Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) Pusat mengajak para petani palawija untuk terus meningkatkan semangat bercocok tanam guna mendukung program swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas Pemerintah Republik Indonesia.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan rutin Jumat Barokah KSJ yang kali ini menyasar para petani di Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen KSJ untuk tidak hanya menyalurkan bantuan sembako kepada kaum dhuafa, tetapi juga menginspirasi masyarakat agar terus menumbuhkan kepedulian, semangat berbagi, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinator Pelaksana Sedekah Jumat, Boim, mengatakan bahwa para petani, khususnya yang berada di kawasan lumbung pangan, perlu mendapatkan perhatian dan motivasi agar tetap produktif dalam mengelola lahan pertanian.
Menurutnya, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah berbagai tantangan ekonomi dan dinamika global yang berpotensi memengaruhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Para petani harus tetap semangat dan bersabar dalam menjalankan aktivitas pertanian. Kita memahami bahwa bercocok tanam bukan pekerjaan mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari biaya produksi hingga ketersediaan pupuk,” ujar Boim.
Ia juga menyoroti keluhan petani di Desa Hamparan Perak terkait sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi. Kondisi tersebut dinilai memberatkan petani karena harga pupuk nonsubsidi tidak sebanding dengan kemampuan modal maupun hasil panen yang diperoleh.
“Kehadiran kami di kawasan pertanian ini juga untuk menyampaikan aspirasi para petani kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Mereka membutuhkan perhatian dan dukungan, terutama terkait ketersediaan pupuk bersubsidi agar dapat kembali mengoptimalkan lahan pertanian,” jelasnya.
Salah seorang petani jagung dan sawi, Ewin (45), mengaku kesulitan melanjutkan penanaman jagung karena tidak sanggup membeli pupuk nonsubsidi yang harganya dinilai terlalu tinggi dibandingkan pendapatan dari hasil panen.
Akibatnya, tanaman jagung yang telah ditanam tidak terawat secara maksimal. Pertumbuhannya terhambat dan hasil buahnya pun tidak berkembang secara normal.
Keluhan serupa disampaikan Rodiah, petani sawi yang mengaku mengalami penurunan kualitas dan hasil panen akibat keterbatasan pupuk.
“Tanaman sawi yang kami panen sekarang hasilnya berkurang dan tidak sesegar dahulu karena kekurangan pupuk. Di Desa Hamparan Perak, kami sudah jarang mendapatkan pupuk bersubsidi. Untuk memenuhi kebutuhan tanaman, kami terpaksa membeli pupuk urea nonsubsidi,” ungkapnya.
Rodiah berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi petani dan memastikan penyaluran pupuk bersubsidi berjalan tepat sasaran sehingga masyarakat dapat kembali bercocok tanam dengan baik.
Melalui kegiatan tersebut, Pengurus KSJ Pusat berharap aspirasi para petani dapat didengar dan menjadi perhatian pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.
KSJ juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mendukung para petani. Sebab, keberhasilan swasembada pangan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan nyata terhadap mereka yang bekerja langsung mengolah lahan dan menghasilkan pangan.
Petani kuat, pangan terjaga, Indonesia berdaulat.
















Komentar