Jakarta. Topinformasi.com
Listrik merupakan kebutuhan dasar dan nyawa perekonomian nasional. Namun selama dua dekade terakhir, kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) selalu menjadi indikator kesehatan pembangunan infrastruktur Indonesia.
Berdasarkan data lengkap yang dihimpun dari laporan tahunan PLN, Bank Dunia, Komisi VII DPR RI, serta audit independen menunjukkan satu fakta yang mengejutkan: masa jabatan Direktur Utama Darmawan Prasodjo 2021– sekarang) adalah periode dengan tingkat kegagalan sistem kelistrikan tertinggi dan terburuk dalam sejarah pencatatan data sejak tahun 2006.
Banyak klaim keberhasilan disampaikan manajemen saat ini, mulai dari laba bersih rekor hingga transformasi digital. Namun di balik angka-angka itu, ada kenyataan pahit yang dirasakan jutaan masyarakat. Mulai pemadaman berulang, durasi gangguan yang makin lama, dan kembalinya pemadaman bergilir rutin yang sudah tidak terjadi selama hampir 20 tahun.
“Ini fakta yang sulit dibantah sekalipun ada pihak-pihak yang menjadi buzzer berupaya melakukan pembelaan. Semua ini hasil laporan Tim Investigasi Data & Laporan Khusus Re-LUN,” tegas Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN), Teuku Yudhistira di Jakarta, Kamis 18/6/2026.
Berikut adalah laporan lengkap perbandingan kinerja tujuh Direktur Utama PLN yang memimpin selama rentang waktu 2006 hingga pertengahan 2026, khusus untuk sistem kelistrikan Jawa–Bali yang menopang lebih dari 70% ekonomi nasional.
“INDEKS KUNCI: SAIDI DAN SAIFI, UKURAN NYATA KUALITAS LAYANAN”
Untuk mengukur kinerja kelistrikan secara objektif, dunia internasional dan Indonesia menggunakan dua indikator utama:
SAIDI (System Average Interruption Duration Index): Rata-rata total lama pemadaman yang dialami satu pelanggan dalam satu tahun, dihitung dalam menit atau jam. Semakin kecil angkanya, semakin baik pelayanannya.
SAIFI (System Average Interruption Frequency Index): Rata-rata berapa kali pemadaman terjadi pada satu pelanggan dalam satu tahun. Semakin kecil angkanya, semakin jarang gangguan terjadi.
“Data yang disajikan ini merupakan gabungan dari data resmi PLN dan verifikasi independen. Karena dalam beberapa tahun terakhir, ditemukan praktik perubahan definisi ‘gangguan’ yang membuat angka laporan resmi terlihat lebih baik dari kenyataan di lapangan,” papar Yudhistira.
PERJALANAN KINERJA 20 TAHUN: DARI SANGAT BAIK MENUJU KERUNTUHAN SISTEM
1. ERA KESTABILAN TINGGI (2006–2011): NOL PEMADAMAN SKALA BESAR
Q1Pada masa kepemimpinan Eddie Widiono (2006–2008) dan Fahmi Mochtar (2008–2009), sistem Jawa–Bali mencapai tingkat keandalan tertinggi sepanjang sejarah.
_SAIDI_: Hanya 120–200 menit (2–3,3 jam per tahun)
_SAIF_I: 1,2–1,8 kali gangguan per tahun
“Catatan Penting: Tidak tercatat satu pun kejadian pemadaman total atau keruntuhan jaringan meluas. Pasokan sangat terjamin, pemeliharaan berjalan teratur, dan keseimbangan antara pembangkitan serta permintaan terjaga ketat”.
Kinerja ini diteruskan oleh Dahlan Iskan (2009–2011) yang memimpin program pembangunan besar-besaran 10.000 Megawatt. Meskipun kapasitas daya ditambah secara masif, keandalan tetap terjaga sangat baik dengan SAIDI di kisaran 180–240 menit. Pada masa ini, publik hampir tidak pernah mendengar berita pemadaman yang meluas dan lama.
2. Awal Penurunan Kualitas (2011–2014): Tanda-tanda Jaringan Menua
Di bawah kepemimpinan Nur Pamudji (2011–2014), mulai terlihat gejala penurunan kinerja.
_SAIDI_: Meningkat menjadi 300–450 menit (5–7,5 jam per tahun)
-SAIFI_: Naik menjadi 2,2–3,0 kali gangguan
Kejadian: Terjadi dua kali pemadaman parsial di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan durasi hingga 3 jam.
Analisis: Masalah utamanya adalah usia aset jaringan yang mulai menua dan keterlambatan pembaruan infrastruktur, namun belum ada kegagalan sistem total yang mengancam seluruh wilayah.
3. Masa Penurunan Kualitas Layanan Sebelum Pemulihan (2014–2019): Bencana Agustus 2019
Masa jabatan Sofyan



