Belanja Obat-Obatan Rp 11,5 Miliar, RSUD H OK Arya Zulkarnain Kabupaten Batubara Gagal Operasi Pasien

Batubara,- Pengadaan obat-obatan di RSUD H OK Arya Zulkarnain Kabupaten Batubara, volume 1 tahun sebesar Rp 11, 5 miliar terhitung sejak Januari 2026. Namun di Oktober 2026, Suhartono 58 tahun warga Dusun VIll Desa Mangkai Lama gagal di operasi. Selasa 27/10/2026.
Sebelumnya Suhartono di giatnosa memiliki penyakit kelenjar atau benjolan pada bagian tengkuk, dan disarankan untuk di operasi.
Namun saat waktu yang ditentukan untuk dilakukan operasi, pasien Suhartono gagal operasi akibat obat Anestesi di RSUD H OK Arya Zulkarnain tidak tersedia atau tidak ada”.
Dikonfirmasi Selasa 27/10/2026, Pihak RSUD Batubara, Penunjang obat-obatan dan logistik, Hadiyani menjelaskan pihaknya sudah mengajukan permintaan obat – obatan setiap saat, namun hambatannya dimana kami tidak tahu”, jelasnya.
Ketika di singgung soal perusahaan penyedia obat-obatan di RSUD H OK Arya Zulkarnain, Hadinyani mengaku tidak tahu. “Perusahaannya saya tidak tahu”, ucapnya.
Diketahui, RSUD H OK Arya Zulkarnain Kabupaten Batubara melakukan obat-obatan dengan volume 1 tahu terhitung sejak Januari 2026, RSUD H OK Arya Zulkarnain melakukan belanja obat-obatan sebesar Rp 3.008. 272.818, dan Belanja BMHP dan Utang BMHP tahun 2023, 2024, 2025 Belanja Pelayanan Daerah (PMI) sebesar Rp 3.500.000.000.
Selanjutnya Februari 2026 kembali melakukan Belanja obat-obatan – obat-obatan Lainnya sebesar Rp 2.000.000.000, dan Belanja Pengadaan Obat-obatan sebesar Rp 3.000.000.000.
Ditemui Selasa 27/10/2026, Suhartono 58 tahun warga Dusun VIll Desa Mangkai Lama Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara didampingi Istrinya, Sri Mastuti 53 tahun dan putri kandungnya, Srirahayu Ningsih 33 tahun kembali mengungkapkan kekecewaannya atas pelayanan RSUD H OK Arya Zulkarnain Kabupaten Batubara.
“Saya benar-benar kecewa dan trauma, hari ini saya di undang lagi ke RSUD H OK Arya Zulkarnain, namun dari pukul 10:30 Wib sampai pukul 14:00 Wib, pimpinan rumah sakit’ dr. Yufly Yanja tidak mau menemui kami”, ujarnya.
“Saya sudah diperiksa, sudah telanjang, sudah memakai baju steril (warna hijau), alih-alih dibilang dokternya, operasinya di tunda, “katanya obat Anestesi habis”, ujarnya.
“Inikan menyangkut yawa orang, seharusnya pelayanannya harus tepat, cepat dan profesional, tegasnya. (dr)
