SUMATERA BARAT , TOPINFORMASI.com
Ancaman bencana alam yang terus berulang di jalur utama Padang–Bukittinggi kembali memunculkan desakan agar pembangunan Jalan Tol Bukittinggi–Padang Panjang–Sicincin segera direalisasikan. Ruas tol tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan konektivitas sekaligus mengurangi dampak gangguan akibat bencana.
Kawasan Bukittinggi dan Padang Panjang yang berada di dataran tinggi memiliki karakteristik geografis berupa lereng curam dan tebing yang rawan longsor. Kondisi tersebut membuat jalur nasional Padang–Bukittinggi, khususnya di kawasan Lembah Anai, kerap mengalami gangguan, terlebih saat intensitas hujan tinggi.
Terbaru, tanah longsor kembali terjadi di ruas Jalan Padang–Bukittinggi tepatnya di KM 66+700 kawasan Lembah Anai, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, pada Kamis (30/7/2026) sekitar pukul 19.40 WIB. Material longsor sempat menghambat arus lalu lintas dari arah Padang menuju Bukittinggi maupun sebaliknya.
Lembah Anai merupakan akses utama yang menghubungkan Kota Padang dengan wilayah Bukittinggi dan sekitarnya. Ketika jalur tersebut terdampak longsor, mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga aktivitas ekonomi ikut terganggu.
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menilai pembangunan Jalan Tol Bukittinggi–Padang Panjang–Sicincin sebagai kebutuhan strategis. Selain mengurangi kepadatan lalu lintas, ruas tol itu dirancang menjadi koridor alternatif yang lebih andal saat jalur nasional terdampak bencana.
Rencana pembangunan juga mencakup terowongan (tunnel) yang disesuaikan dengan kondisi geografis kawasan. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan keandalan jaringan transportasi, menjaga kelancaran aktivitas ekonomi, serta memperkuat ketahanan infrastruktur Sumatera Barat terhadap risiko bencana.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pengusaha Rental Kendaraan Indonesia (DPD Aspera) Sumatera Barat, Rino Zulyadi, mengatakan pembangunan jalan tol sangat dibutuhkan mengingat bencana longsor yang terus berulang.
“Harapan kami pembangunan tol bisa segera terealisasi. Kami juga mendengar tahapan pembangunan Jalan Tol Bukittinggi–Padang Panjang–Sicincin oleh PT Hutama Karya akan segera dilakukan. Masyarakat Sumbar tentu akan mendukung,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Rino, selain meningkatkan keselamatan pengguna jalan dari ancaman longsor, keberadaan jalan tol juga akan memangkas waktu tempuh menuju kawasan wisata Bukittinggi dan Padang Panjang.
Ia menilai pembangunan tol merupakan bagian dari pemerataan pembangunan sekaligus mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Kehadiran ruas tersebut juga diharapkan memperkuat konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera sehingga akses menuju Sumatera Utara, Riau, dan Jambi menjadi lebih cepat.
Terkait masih adanya sebagian masyarakat yang menyampaikan penolakan terhadap proyek tersebut, Rino berharap seluruh persoalan dapat diselesaikan melalui dialog dan sosialisasi yang baik.
“Tidak ada masyarakat yang menolak pembangunan. Sosialisasi yang baik dan solusi yang saling menguntungkan menjadi kunci agar seluruh persoalan dapat diselesaikan secara bijaksana,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Khadafi, pengusaha SPBU di Kota Padang. Menurutnya, kehadiran jalan tol akan membuka akses Sumatera Barat menjadi lebih luas sehingga berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan.
Ia juga menilai keberadaan jalan tol akan memperlancar distribusi bahan bakar minyak (BBM), terutama menuju daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau ketika terjadi bencana.
“Padang–Bukittinggi saat ini bisa ditempuh hingga sekitar tiga jam. Dengan adanya jalan tol, waktu perjalanan diperkirakan menjadi sekitar satu hingga satu setengah jam. Ini tentu akan menghemat waktu, meningkatkan efisiensi distribusi, dan mendukung kemajuan Sumatera Barat,” ujarnya.
Tulisan telah dirapikan dengan gaya pemberitaan yang lebih lugas, berimbang, dan sesuai kaidah jurnalistik, serta menghindari pernyataan yang bersifat menghakimi atau tidak terverifikasi.



