MEDAN, TOPINFORMASI .com– Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) menilai kebijakan penerimaan mahasiswa baru di Indonesia masih belum memberikan ruang yang adil bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Ketimpangan tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab krisis penurunan jumlah mahasiswa baru yang dialami banyak PTS dalam tiga tahun terakhir.
Ketua Senat UISU, Prof. Dr. Ir. Mhd. Asaad, M.Si., mengatakan PTS saat ini menghadapi tantangan serius akibat semakin agresifnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) membuka berbagai jalur penerimaan mahasiswa. Kondisi tersebut, menurutnya, mengancam keberlangsungan ekosistem pendidikan tinggi nasional.
“Aspek keadilan dalam penerimaan mahasiswa baru harus menjadi perhatian pemerintah. Selama ini PTS telah menjadi tulang punggung pendidikan tinggi di Indonesia, namun kini justru menghadapi tekanan yang semakin berat,” ujar Asaad kepada wartawan di Medan, Kamis (6/8/2026).
Ia mengungkapkan, dari 3.044 perguruan tinggi di Indonesia, sebanyak 2.713 merupakan PTS yang menampung sekitar 60 persen mahasiswa nasional. Namun berdasarkan data 2024–2025, banyak PTS mengalami penurunan penerimaan mahasiswa baru hingga 20–30 persen, bahkan sebagian mencapai 40 persen.
Sekitar 30 persen PTS disebut hanya mampu memenuhi kurang dari separuh kuota mahasiswa baru, sementara sejumlah kampus di daerah mulai menghentikan operasional karena minimnya mahasiswa.
Menurut Asaad, ketimpangan juga terlihat dari perbandingan daya tampung. Sebanyak 127 PTN menampung sekitar 4,4 juta mahasiswa atau rata-rata 34.712 mahasiswa per kampus. Sebaliknya, 2.713 PTS menampung sekitar 4,8 juta mahasiswa dengan rata-rata hanya 1.781 mahasiswa per perguruan tinggi.
Ia menilai kondisi tersebut tidak mencerminkan persaingan yang sehat, terlebih ketika pemerintah tengah berupaya meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi dari 31 persen menuju target 37 persen.
Asaad menjelaskan, PTN saat ini memiliki berbagai jalur seleksi, mulai dari Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri Barat (SMMPTN-Barat), hingga jalur mandiri yang dibuka dalam beberapa gelombang.
Di sisi lain, kehadiran Universitas Terbuka (UT) dengan biaya kuliah yang relatif terjangkau dan sistem pembelajaran daring juga dinilai turut memperketat persaingan dalam perekrutan mahasiswa baru, khususnya lulusan SMA atau sederajat.
Asaad menegaskan, selama puluhan tahun PTS telah berperan besar memperluas akses pendidikan tinggi hingga ke berbagai daerah yang belum terjangkau PTN. Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menghadirkan kebijakan yang lebih seimbang agar keberlangsungan PTS tetap terjaga.
Ia mengapresiasi langkah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang menetapkan batas akhir penerimaan mahasiswa baru PTN hingga Juli mulai tahun 2026. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut belum cukup menyelesaikan persoalan ketimpangan.
Asaad menyebut terdapat dua persoalan utama, yakni besarnya dukungan anggaran dan infrastruktur yang diterima PTN, serta kebijakan pembukaan jalur masuk dan program studi baru yang dinilai memperluas ruang rekrutmen mahasiswa secara tidak proporsional.
Sebagai solusi, UISU mengusulkan pemerintah menetapkan regulasi yang lebih tegas, antara lain membatasi kuota jalur mandiri PTN, meningkatkan alokasi Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) bagi mahasiswa PTS, memberikan hibah yang lebih berimbang kepada PTS, serta mengatur rekrutmen Universitas Terbuka agar diprioritaskan bagi lulusan SMA atau sederajat yang telah menyelesaikan pendidikan minimal empat tahun sebelumnya.
Meski demikian, Asaad menegaskan UISU tetap optimistis menghadapi tantangan tersebut. Menurutnya, kondisi saat ini menjadi momentum bagi kampus untuk memperkuat kualitas akademik, meningkatkan pelayanan mahasiswa, memperluas strategi pemasaran, serta mempererat kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.
“Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi UISU untuk terus bertransformasi dan meningkatkan daya saing sebagai perguruan tinggi yang berkualitas,” pungkasnya.





