BATU BARA – Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) bersama Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Sumatera Utara dan Mahasiswa Pecinta Alam Perguruan Tinggi Muhammadiyah Seluruh Indonesia Regional I (Mapala PTMSI I) menggelar Aksi Bela Negara 2026 pada 16–17 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kelautan Nasional, Hari Mangrove Sedunia sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Direktur Yayasan Naluri Fauna Indonesia, Badar Johan, mengatakan kegiatan mengusung tema “Penguatan Ekonomi Biru Berkelanjutan untuk Menjaga Kedaulatan Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia.”
Menurutnya, bela negara tidak hanya diwujudkan melalui aspek pertahanan, tetapi juga melalui kepedulian, perlindungan dan aksi nyata dalam menjaga sumber daya alam serta keanekaragaman hayati Indonesia.
“Aksi Bela Negara 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mendorong pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan,” ujar Badar Johan.
Rangkaian kegiatan sebelumnya diawali seminar secara daring melalui Zoom pada 30 Juli 2026. Seminar tersebut menjadi ruang edukasi dan pertukaran pengetahuan mengenai ekonomi biru, konservasi pesisir dan laut serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Seminar dibuka oleh perwakilan Bupati Batu Bara dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai lembaga. Di antaranya perwakilan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Utara yang membahas isu lingkungan dari perspektif bela negara serta aktivis mangrove Wibi Nugraha yang menyampaikan materi mengenai konservasi mangrove.
Selain itu, turut hadir pemateri dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang membahas ekonomi biru dan kedaulatan serta terumbu karang. Materi lainnya disampaikan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara mengenai EcoEdu Wisata, YAKOPI tentang konservasi mangrove, Yayasan Fifan Laut Nusantara mengenai pembiayaan berkelanjutan konservasi perairan, serta Recyclo Goods mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan.
Diskusi tersebut dipandu Feni Rahmadiani dari YAKOPI sebagai moderator.
“Melalui seminar ini, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir sekaligus mengembangkan ekonomi biru yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan di lapangan, peserta bersama masyarakat kelompok tani mangrove melaksanakan penanaman bibit mangrove dan aksi bersih pantai.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pencemaran lingkungan.
Badar menjelaskan, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga garis pantai, mengurangi abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota serta menyimpan karbon. Karena itu, pelestarian mangrove dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan blue carbon dan ekonomi biru berkelanjutan.
“Kebersihan laut dimulai dari perilaku manusia di daratan. Karena itu, kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir,” ujarnya.
Selain aksi konservasi, peserta juga melaksanakan pengibaran Bendera Merah Putih di laut sebagai simbol nasionalisme dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Badar, pengibaran bendera di wilayah perairan menjadi pesan bahwa laut merupakan bagian penting dari kedaulatan Indonesia yang harus dijaga bersama.
“Semangat kemerdekaan kami padukan dengan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya perlindungan ekosistem laut dan pesisir Indonesia,” katanya.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan transplantasi terumbu karang sebagai bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem laut.
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem penting bagi kehidupan laut serta memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Kegiatan transplantasi diharapkan dapat mendukung pemulihan ekosistem sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan laut,” pungkas Badar Johan.


