TANGERANG SELATAN, TopInformasi.com – Sebanyak 20 peserta Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan IV Tahun 2026 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumatera Utara mempelajari berbagai inovasi pelayanan kesehatan saat melaksanakan Studi Lapangan (STULA) di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menggali praktik baik dalam kepemimpinan, inovasi pelayanan publik, kolaborasi lintas sektor, hingga pemanfaatan teknologi digital yang dapat diadaptasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan di unit kerja masing-masing.
Dalam studi lapangan tersebut, peserta melakukan observasi, wawancara, diskusi, serta telaah dokumen untuk mengidentifikasi strategi dan inovasi yang diterapkan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Sejumlah program menjadi perhatian peserta, di antaranya Ngider Sehat Premium, Rujak Ulek Gula Aren, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J), Kesehatan Reproduksi Calon Pengantin, serta Kader Remaja DOREMI Fasolasido.
Program Ngider Sehat Premium menjadi salah satu inovasi yang dipelajari karena mengusung pendekatan jemput bola, yakni mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui layanan di luar gedung Puskesmas.
Pelaksanaan program tersebut didukung pemetaan wilayah, ketersediaan tenaga kesehatan, sarana transportasi, standar operasional prosedur (SOP), indikator kinerja, serta sistem pelaporan. Pada 2025–2026, program ini didukung 143 tenaga kesehatan, terdiri atas 35 dokter, 54 perawat, dan 54 bidan, serta 74 kendaraan roda dua dan 10 ambulans.
Peserta juga mempelajari inovasi Rujak Ulek Gula Aren dalam penanganan stunting melalui intervensi gizi terpadu. Sementara itu, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik memberikan gambaran tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengendalian penyakit melalui pemberdayaan kader, relawan, dan warga.
Pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik tidak cukup hanya dengan menghadirkan program baru. Keberhasilannya juga membutuhkan perencanaan yang matang, dukungan sumber daya, keterlibatan masyarakat, serta evaluasi secara berkelanjutan.
Dari aspek kepemimpinan, peserta mengidentifikasi pentingnya peran pemimpin dalam menentukan arah kebijakan, menetapkan prioritas, mengoptimalkan sumber daya, membangun koordinasi, dan memastikan target organisasi tercapai.
Pengambilan keputusan juga perlu mempertimbangkan data, regulasi, kebutuhan masyarakat, kemampuan organisasi, ketersediaan anggaran, serta dampak kebijakan terhadap penerima layanan.
Kolaborasi lintas sektor dan digitalisasi turut menjadi materi penting dalam studi lapangan ini. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan melibatkan Puskesmas, rumah sakit, BPJS Kesehatan, Dinas Sosial, Bappeda/Bappelitbangda, BPKAD, kecamatan, kelurahan, fasilitas kesehatan swasta, perguruan tinggi, kader kesehatan, organisasi masyarakat, hingga warga.
Kolaborasi dilakukan melalui rapat koordinasi, forum lintas sektor, pemanfaatan sistem informasi, serta monitoring dan evaluasi untuk mendukung pelaksanaan program.
Di bidang digitalisasi, peserta mempelajari penggunaan Google Form, SIMPUS, Google Sites, dashboard, sistem informasi kesehatan, sistem pengelolaan sumber daya manusia kesehatan, serta media komunikasi digital seperti YouTube, Instagram, dan podcast PDKT.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat membantu mempercepat proses pelayanan, meningkatkan akurasi data, mempermudah pemantauan program, mempercepat pelaporan, serta mengurangi pekerjaan manual.
Komunikasi publik juga menjadi perhatian karena keberhasilan program pemerintah perlu didukung penyampaian informasi yang mudah dipahami dan menjangkau masyarakat. Penggunaan berbagai media digital menjadi salah satu sarana untuk memperluas akses informasi mengenai kesehatan dan pelayanan publik.
Dari hasil studi lapangan, peserta mengidentifikasi sejumlah praktik baik yang dapat diadaptasi, mulai dari pelayanan berorientasi masyarakat, inovasi berbasis permasalahan, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi lintas sektor, digitalisasi pelayanan, hingga penguatan monitoring dan evaluasi.
Praktik tersebut selanjutnya dikaitkan dengan kebutuhan unit kerja masing-masing peserta. Bentuk adaptasi yang dirumuskan antara lain pemetaan permasalahan, peningkatan kualitas pelayanan, pemberdayaan pegawai, penguatan kolaborasi, komunikasi publik yang adaptif, serta pemanfaatan teknologi.
Salah satu gagasan yang turut diidentifikasi ialah penggunaan barcode dan Google Form untuk pendaftaran kunjungan pada unit kerja pemasyarakatan. Gagasan ini menjadi contoh bagaimana pembelajaran digital dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan organisasi.
Studi lapangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyusunan laporan, tetapi ditindaklanjuti melalui penerapan inovasi dan perbaikan pelayanan secara nyata di lingkungan kerja peserta.
Melalui kegiatan ini, peserta PKP Angkatan IV BPSDM Provinsi Sumatera Utara diharapkan mampu mengadaptasi praktik baik dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan sesuai kewenangan, kebutuhan, karakteristik, dan sumber daya organisasi masing-masing.
Dengan demikian, hasil studi lapangan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, mendorong inovasi, dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.


