AdvertorialInternasional

Kabar!Indonesia Dilema Soal Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz

13
×

Kabar!Indonesia Dilema Soal Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,TOPINFORMASI.COM  – Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah terkait kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, Iran.

“Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis,” ujar Hikmahanto, Minggu (29/3).

Menurutnya, di satu sisi Indonesia berkepentingan agar kapal tanker dapat melintas demi menjaga distribusi energi nasional. Namun di sisi lain, langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi keberpihakan dalam konflik geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

Meski demikian, Hikmahanto mengungkapkan bahwa secara prinsip, Iran telah memberikan sinyal positif bagi Indonesia. “Sudah diberi lampu hijau, tinggal masalah teknis saja,” katanya.

Ia menjelaskan, Iran saat ini secara efektif mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dengan mengklasifikasikan negara-negara ke dalam kategori “hostile states” (negara musuh) dan “non-hostile states” (bukan musuh). Kebijakan ini menentukan kapal mana yang diizinkan melintas.

Sejumlah negara seperti Rusia, China, Pakistan, India, Thailand, Malaysia, serta Indonesia termasuk dalam kelompok yang diizinkan melintas. Sementara Turki disebut hanya memperoleh akses terbatas.

“Bukannya tidak mungkin jumlah negara yang hendak bernegosiasi dengan Iran akan bertambah,” ujarnya.

Sebaliknya, negara yang dikategorikan sebagai musuh oleh Iran seperti Amerika Serikat, Israel, dan Inggris tidak mendapatkan akses melintas.

Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan global, terutama di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Trump mendorong negara-negara sekutunya di NATO, serta Jepang dan Korea Selatan, untuk turut membuka akses pelayaran di Selat Hormuz. Namun, upaya tersebut belum mendapat respons positif.

Hikmahanto memperingatkan, situasi dapat semakin rumit jika Amerika Serikat juga menerapkan pengelompokan negara sebagai kawan atau lawan, seperti yang dilakukan Iran.

“Repotnya bila negara yang dianggap teman oleh Iran akan dianggap musuh oleh AS,” ujarnya.

Dengan dinamika tersebut, Indonesia dinilai harus berhati-hati dalam mengambil langkah diplomasi agar tetap dapat menjaga kepentingan nasional tanpa terjebak dalam pusaran konflik geopolitik global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *