BerandaLingkunganICMI Muda Sumut Dikukuhkan, Cendekiawan Muda Didorong Turun Tangan Hadirkan Solusi

ICMI Muda Sumut Dikukuhkan, Cendekiawan Muda Didorong Turun Tangan Hadirkan Solusi

MEDAN — Majelis Pengurus Wilayah (MPW) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muda Sumatera Utara resmi dikukuhkan, Sabtu (5/9/2026). Pengukuhan ini menjadi momentum bagi generasi cendekiawan muda untuk tidak sekadar berdiskusi, tetapi ikut turun tangan menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Medan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Utara, jajaran pengurus ICMI, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi kepemudaan serta sejumlah elemen masyarakat.

Ketua Umum MPW ICMI Muda Sumatera Utara, Ilham Suheri Situmorang, menegaskan bahwa keberadaan ICMI Muda harus memberikan dampak nyata.

Menurutnya, kecendekiaan tidak boleh hanya diukur dari kemampuan akademik maupun banyaknya forum diskusi yang digelar. Lebih dari itu, ilmu dan gagasan harus mampu diterjemahkan menjadi penelitian, pengabdian dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“ICMI Muda Sumatera Utara harus menjadi rumah bagi gagasan dan gerakan. Kita ingin cendekiawan muda tidak hanya berbicara tentang persoalan masyarakat, tetapi hadir untuk mencari solusi, melakukan penelitian, membangun pengabdian, dan melahirkan karya yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujar Ilham.

Ia menyebut Sumatera Utara memiliki berbagai persoalan yang membutuhkan keterlibatan generasi muda terdidik, di antaranya pendidikan, kemiskinan, narkoba, lingkungan, ekonomi masyarakat hingga transformasi digital.

Karena itu, ICMI Muda Sumut akan diarahkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan kalangan intelektual dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat.

“Ukuran keberhasilan kita bukan seberapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi seberapa besar dampak yang kita berikan. Cendekiawan harus hadir di tengah masyarakat dan kehadirannya harus diterima karena membawa solusi,” tegasnya.

Wagubsu: Jangan Berhenti pada Seremoni

Wakil Gubernur Sumatera Utara turut menekankan pentingnya peran ICMI Muda sebagai kekuatan intelektual yang mampu memberikan kontribusi konkret bagi pembangunan daerah.

Menurutnya, ilmu pengetahuan dan gagasan anak muda harus mampu diterjemahkan menjadi karya yang menjawab kebutuhan masyarakat.

“ICMI Muda jangan berhenti pada seremoni dan kegiatan organisasi. Yang paling penting adalah bagaimana gagasan, ilmu pengetahuan dan energi anak-anak muda ini bisa menghasilkan karya nyata bagi masyarakat dan pembangunan Sumatera Utara,” ujar Wakil Gubernur.

Ia juga mendorong ICMI Muda membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi serta berbagai elemen masyarakat.

Dr Tumpal: Pengetahuan Harus Dikonversi Menjadi Gerakan

Ketua Umum Presidium MPP ICMI Muda, Dr. Tumpal Panggabean, mengatakan tantangan generasi muda saat ini tidak cukup dijawab hanya dengan kecerdasan akademik.

Menurutnya, cendekiawan muda harus berani masuk ke ruang-ruang persoalan masyarakat dan mengambil bagian dalam mencari jalan keluar.

“Cendekiawan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu harus dikonversi menjadi gagasan, gagasan menjadi gerakan, dan gerakan melahirkan perubahan. Di situlah letak pengabdian seorang cendekiawan,” ujarnya.

Ia berharap kepengurusan ICMI Muda Sumatera Utara dapat menjadi salah satu kekuatan strategis dalam membangun ekosistem intelektual dan kepemudaan yang produktif.

Dialog Cendekia: Ilmu Jangan Berhenti di Kampus

Pengukuhan MPW ICMI Muda Sumatera Utara juga dirangkaikan dengan Dialog Cendekia yang menghadirkan sejumlah akademisi sebagai narasumber.

Di antaranya Dekan FISIP USU Dr. Harta Ridho, S.Sos., M.Sp., Dekan FIS Unimed Dr. Ratih Baiduri, S.Si., M.Si., serta Dekan Fakultas Saintek UINSU Dr. Zulham, S.HI., M.Hum.

Dalam dialog tersebut, para akademisi menyoroti pentingnya peran pemuda cendekia dalam kehidupan masyarakat.

Perguruan tinggi dan kalangan intelektual dinilai memiliki tanggung jawab agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas maupun jurnal akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi atas persoalan nyata.

Pengabdian kepada masyarakat dan penelitian pun dinilai harus menjadi bukti konkret keberadaan seorang cendekiawan.

Sebab, kecendekiaan tidak semata-mata ditunjukkan melalui gelar, jabatan maupun kemampuan akademik. Implementasinya justru terlihat ketika ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat dan dirasakan masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Cendekia, yakni pentingnya pemuda intelektual membangun jembatan antara kampus dan masyarakat, antara pengetahuan dan persoalan nyata, serta antara gagasan dan tindakan.

Targetnya Gerakan Cendekiawan yang Berdampak

Pengukuhan MPW ICMI Muda Sumatera Utara diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan intelektual muda yang lebih terbuka, kolaboratif dan berdampak.

Ke depan, ICMI Muda Sumut diharapkan mampu menjadi ruang bertemunya berbagai latar belakang keilmuan untuk menghasilkan riset, rekomendasi kebijakan, program pengabdian, inovasi sosial hingga solusi terhadap berbagai persoalan di Sumatera Utara.

Dengan demikian, kecendekiaan tidak berhenti pada apa yang diketahui, tetapi dibuktikan melalui apa yang dilakukan dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Semangat yang mengemuka dalam pengukuhan dan Dialog Cendekia tersebut sederhana: cendekiawan bukan hanya mereka yang mampu membaca persoalan, tetapi juga mereka yang berani hadir, berpikir, bergerak dan ikut menyelesaikannya.

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments